digital program

Difabel Jemput Bola Nyambi Tukang Bekam

Difabel Jemput Bola Nyambi Tukang Bekam
Suyadi saat memperbaiki barang eletronik. (Foto: Maulana Syarifudin)

Mojokerto– Seorang penyandang disabilitas di Kabupaten Mojokerto terpaksa harus bekerja serabutan di masa pandemi Covid-19 ini. Pekerjaan utamanya sebagai tukang reparasi elektronik maupun penjahit tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Penghasilannya turun hingga 50 persen.

Salah satu penyandang disabilitas itu adalah Suyadi warga Desa Sumengko, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto. Pria berusia 47 tahun ini sudah hampir 25 tahun lamanya menekuni pekerjaan sebagai tukang servis elektronik.

Namun lantaran adanya pandemi Covid-19 ini, penghasilannya turun drastis hingga 50 persen. Pasalnya mayoritas dari masyarkat lebih memilih untuk menggunakan uangnya untuk kebutuhan primer dari pada harus melakukan reparasi peralatan elektroniknya.

Baca Juga: Risiko Terpapar Corona, Tunarungu Tetap Berjualan Jamu

Suyadi mengaku, untuk bisa menghidupi anak dan istri, dirinya terpaksa juga harus melakoni pekerjaan tambahan lain. Mulai dari pijat refleksi  dan bekam, juga mengumpulkan kembali barang elektronik agar bisa dijual.

“Kami sangat terdampak dengan adanya pandemi ini. Terutama yang kerjanya servis elekrtronik. Harus punya lompatan dengan mengumpulkan barang bekas lain untuk bisa dijual, karena kalau mengharapkan dari satu pekerjaan saja tidak bisa mencukupi kebutuhan,” kata Suyadi yang juga Ketua Difabel Motorcycle Indonesia (DMI) Mojokerto, Senin (29/6/2020).

Saat melakukan pekerjaan sebagai ahli bekam dan pijat refleksi, Suyadi mengaku harus jemput bola. Cacat kakinya tidak menjadi alasan untuk tidak melakukan aktivitas. Ia sudah terbiasa pergi kemana-mana menggunakan motornya. Motor tersebut sudah dimodifikasi menjadi roda tiga.

Baca Juga: Penjual Koran Difable Bertahan di Tengah Pandemi

“Saya juga melayani bekam dan pijat refleksi. Saya harus jemput bola, mendatangi orang yang minta dibekam atau dipijat,” tegas Suyadi.

Ia menambahkan, kesulitan ekonomi juga dirasakan para penyandang disabilitas lain. Lantaran mayoritas dari mereka hanya mengandalkan keahlian seadanya, seperti menjahit dan melakukan reparasi elektronik.

Suyadi berharap agar para penyandang disabilitas ini dapat diperhatikan pemerintah. Mayoritas para penyandang difabel ini memliki kemampuan ekonomi di garis menengah kebawah. (Maulana Syarifudin)

 

 

SHARE