digital program

Ini Cara Kampung Kranggan Tetap Zero Covid-19

Ini Cara Kampung Kranggan Tetap Zero Covid-19
Kampung Kranggan berhasil mempertahankan zero Covid-19 meski Surabaya zona merah. (Foto: Krisna Fajar)

Surabaya –  Selama pandemi Covid-19 Kota Surabaya dikenal dengan wilayah zona merah pekat. Tingkat penyebaran Covid-19 tertinggi di Jawa Timur. Namun demikian, ternyata faktanya ada beberapa kampung yang tetap zero Covid-19 sejak wabah tersebut melanda sekitar Maret hingga saat ini.

Kampung tersebut adalah RT 7 di kawasan Jalan Kranggan Gang 5 Surabaya. Wilayah ini adalah satu dari 12 RT di bawah komando RW 1 Kelurahan/Kecamatan Bubutan Surabaya. Keberhasilan bertahan dari wabah ini berkat kerja sama warga dan aparat kampung yang solid dan harmonis.

Setiap hari, kampung Kranggan Gang 5 ini, tetap menerapkan protokol kesehatan, meski pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Surabaya berakhir dan menuju transisi new normal. Setiap warga maupun pendatang yang hendak memasuki kampung, wajib melewati sejumlah protokol kesehatan. Meliputi wajib memakai masker, pendeteksian suhu tubuh, hingga penyemprotan disinfektan.

Baca Juga: Klaster Desa Temboro Jadi Kampung Tangguh

Selain itu, pihak kampung juga sengaja memasang alat sterilisasi disinfektan sepanjang 150 meter di sepanjang kampung. Upaya ini untuk membunuh virus Covid-19 yang dimungkinkan menempel pada setiap badan warga pendatang maupun kendaraan.

Ketua RT 7 Sugeng Agus Prianto mengatakan, alat sterilisasi disinfektan sepanjang 150 meter ini dilengkapi dengan 40 titik semprot, dengan rentan jarak 4 meter. “Kita lakukan upaya maksimal dalam penyemprotan disinfektan untuk membunuh virus ini. Spray disinfektan ini dinyalakan dua kali sehari, pagi hari sebelum warga beraktifitas kerja dan sore hari saat warga pulang kerja,” ungkap Sugeng, Senin (22/6/2020).

Sementara itu, sebagai upaya membentuk ketahanan pangan, kampung zero Covid-19 ini juga membuat kebijakan sendiri.  Bagi warga diimbau untuk menggantung 5 sampai 10 biji kacang yang digantung di depan rumah. Biji kacang tersebut lantas diambil oleh ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK).

Baca Juga: Kampung Tangguh RW 4 Sidotopo Lawan Corona

Kacang tersebut kemudian diolah menjadi camilan dan dijual di warung-warung yang ada di sekitar kampung Kranggan. Uang hasil penjualan kacang tersebut, selanjutnya digunakan untuk membeli sembako dan bagikan untuk warga kampung yang membutuhkan. Selain itu juga untuk biaya operasional disinfektan selama masa pandemi Covid-19.

Ketua RW 1 Ridi Sulaksono menerangkan, kegiatan menggantung kacang ini  memang sebagai bentuk kesepakatan swadaya dari seluruh warga untuk meringankan beban warga kampung. “Selain menggantung kacang, ibu-ibu PKK di sini juga membuat dapur umum. Memproduksi wedang pokak dan 50 bungkus nasi setiap harinya untuk dibagikan kepada para lansia,” ungkap Ridi Laksono. (Krisna Fajar)

SHARE