digital program

Khofifah Resmikan PLTD Raas dan PLTS

Khofifah Resmikan PLTD Raas dan PLTS
Khofifah berikan arahan di podium sebelum meresmikan PLTD Raas dan 8 PLTS

Sumenep – Untuk menandai dimulainya pengoperasionalan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) di Kepulauan Raas yang dibangun oleh PT. PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Jatim dengan kapasitas 800 Kw, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa meresmikan pengoperasionalan PLTD tersebut. Tidak hanya itu, orang nomor satu di Jatim itu juga meresmikan 8 Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Nantinya sebanyak 8 PLTS, akan ditempatkan di Kepulauan Sumenep. Ke 8 PLTS tersebut terdiri dari PLTS Tonduk dengan kapasitas 200 kWp, PLTS Goa Goa (200 kWp). Ada pula PLTS Masakambing (50 kWp), PLTS Pagerungan Kecil (50 kWp). Selain itu ada PLTS Paliat (100 kWp), PLTS Sakala (100 kWp). Serta PLTS Sabuntan (100 kWp), dan PLTS Saubi (150 kWp). Pada kesempatan inilah, Khofifah resmikan PLTD Raas dan PLTS.

Peresmian kedua pembangkit listrik itu, ditandai dengan penekanan LED oleh Gubernur Khofifah Indar Parawansa. Hal itu disaksikan Ketua Komisi D DPRD Jatim Kuswanto, Kepala Dinas ESDM Setiajit, Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Timur Bali dan Nusa Tenggara Supangkat Iwan Santoso, General Manager PLN UID Jatim Bob Saril dan Bupati Sumenep Busyro Karim di PLTD Kangean, Desa Bilis-Bilis, Kec. Arjasa, Kab. Sumenep, Sabtu (30/11) pagi. Dalam kesempatan itulah, Khofifah resmikan PLTD Raas dan 8  PLTS.

HARAPAN MEMENUHI ELEKTRIFIKASI DI JATIM

Dengan diresmikannya PLTD Kepulauan Raas dan 8 PLTS di Kepulauan Sumenep, diharapkan dapat memenuhi rasio elektrifikasi di Jatim mencapai 100%.

“Kami mengapresiasi segala upaya yang telah dilakukan PLN bersinergi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Hingga akhirnya dapat meresmikan pembangkit listrik untuk pulau-pulau di sekitar Kabupaten Sumenep, Madura. Ini menjadi langkah untuk terus bergerak maju mewujudkan rasio elektrifikasi Jawa Timur 100 persen  dan seluruh masyarakat Jawa Timur dapat menikmati listrik,” ungkap Gubernur Khofifah.

Pemprov bersama Pemkab Sumenep dan PLN  berkomitmen untuk meningkatkan  elektrifikasi di  Kepulauan Sumenep secepat mungkin. Maksimal pada 2020 kedepan, 22 pulau yang belum maksimal teraliri listrik akan terlistriki semua.

“Kalau habis gelap terbitlah terang, dan terang itu artinya mau tadarus Al Quran bisa lebih lama lagi karena listriknya cukup. Mau melakukan program UMKM juga bisa lebih semangat lagi karena listriknya cukup,  anak- anak belajarnya  juga lebih semangat, nelayan bisa menyiapkan cold storage agar ikannya bisa tersimpan lebih lama dan seterusnya. Lalu lebih strategis lagi untuk persiapan rumah sakit setelah selesei dibangun nanti,” ujarnya.

PENERANGAN SELURUH WILAYAH INDONESIA SELESAI TAHUN 2024

Menyinggung soal program elektrifikasi di seluruh Kepulauan di Jawa Timur, Khofifah menyampaikan secara nasional, khususnya pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).  Bahwa penerangan untuk seluruh wilayah di Indonesia selesai tahun 2024. Sedang untuk wilayah Jatim, RPJMD yang dirancang menetapkan  tahun 2022.

“Kita berharap bahwa di tahun 2022,  seluruh wilayah Jawa Timur sudah akan terlistriki semua. Tetapi kita ingin melakukan percepatan. Kalau basis rumah tangga kita sebetulnya berharap tahun 2020 sudah selesai semua, terutama Kepulauan Sumenep tahun 2020 selesai,” ujarnya.

Melihat kondisi tersebut, Gubernur Khofifah ingin adanya percepatan langkah-langkah kongkrit. Utamanya dalam memaksimalkan sektor Maritim di bidang perikanan.

“Kalau perikanan kita membutuhkan cold storage. Nah di daerah-daerah Kepulauan di Sumenep itu memproduksi macam-macam hasil lautnya luar biasa dan siap ekspor. Jikalau cepat teridentifikasi di titik tertentu membutuhkan cold storage dan membutuhkan kapasitas energi tertentu maka PLN akan bisa support. Kemudian kita komunikasikan dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk bisa support cold storage,” jelasnya.

Sehingga, jika Kementerian KKP menyiapkan cold storage, kemudian energinya dikerjakan PLN, maka Pemkab Sumenep dan Pemprov Jatim akan menyiapkan tambahan infrastrukturnya.

Sementara itu, diresmikannya PLTD Pulau Raas dan 8 PLTS di Kepulauan Sumenep ini, untuk mewujudkan rasio elektrifikasi 100 persen  di Jawa Timur pada 2020. Harapan itu menjadi cita-cita PLN UID Jatim dan sejalan dengan program Pemprov Jatim untuk melistriki seluruh wilayahnya hingga pulau terluar, terdepan dan tertinggal.

Hingga Oktober 2019, rasio elektrifikasi PLN untuk wilayah Jatim sudah mencapai 98,38 persen. Berbekal hasil tersebut, PLN terus meningkatkan hingga akhir 2019. Salah satu wilayah dengan rasio elektrifikasi yang masih cukup rendah adalah Kabupaten Sumenep, Madura. Rasio elektrifikasi PLN Kabupaten Sumenep berada di angka 64.99 persen pada Oktober 2019.

PERESMIAN UNTUK MENDONGKRAK RASIO ELEKTRIFIKASI KAB SUMENEP

Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Timur Bali dan Nusa Tenggara Supangkat, Iwan Santoso beri penjelasan. Bahwa terdapat dasar persoalan dalam peresmian PLTD dan PLTS kali ini.

“Persoalan inilah yang mendasari  PT. PLN UID Jatim meresmikan 1 PLTD dan 8 PLTS. Peresmian ini tak lain untuk mendongkrak rasio elektrifikasi Kabupaten Sumenep”, jelas Iwan.

PLTS sendiri, sebut Supangkat, dipilih sebagai wujud konsistensi PLN dalam penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT) yang ramah lingkungan. Selain itu, potensi tenaga surya di pulau-pulau sekitar Kabupaten Sumenep juga dinilai cukup bagus dan memadai.

Setidaknya 2.000 KK di Pulau Madura akan mendapatkan bantuan PLN Peduli berupa listrik gratis senilai Rp 1 milyar. Selain itu, untuk meningkatkan perekonomian warga, sejumlah 10 buah perahu listrik diberikan kepada para nelayan. Tidak hanya itu, YBM PLN UID Jawa Timur melalui Rumah Sakit Terapung Kestaria Airlangga (RSTKA) juga memberikan bantuan pelayanan kesehatan gratis. Dan melalui program one person one hope, pegawai PLN secara sukarela menyumbangkan sebagian penghasilannya untuk dapat memberikan listrik gratis kepada 100 pelanggan.

Upaya itu, sebut Supangkat untuk mewujudkan listrik menerangi hingga ke pelosok negeri terutama di Pulau Madura. Menurutnya, dibutuhkan kerja keras dari berbagai pihak. Penggunaan jalur laut untuk mengangkut berbagai material menjadi proses yang panjang. (Tim Liputan)

SHARE