digital program

Valentine Harus Dimaknai Secara Luas

Valentine Harus Dimaknai Secara Luas
Budayawan asal Magetan Abraham Nur Cahyo.

Magetan – Budayawan asal Magetan Abraham Nur Cahyo memiliki pandangan sendiri atas perayaaan Valentine atau Hari Kasih Sayang. Menurutnya, Valentine harus dimaknai secara luas. Bukan lagi sebatas kasih sayang kepada sesama manusia.

Valentine dirayakan setiap 14 Februari. Hingga kini, pro dan kontra masih menyertai. Ada yang berpandangan positif, tapi tak sedikit pula beranggapan negatif atas perayaan Hari Kasih Sayang.

Abraham Nur Cahyo turut angkat bicara terkait perayaan Valentine. Bukan lagi masalah setuju atau tidak setuju. Tapi, Valentine harus dimaknai secara luas.

“Menyikapi hari Valentine jangan terpaku hanya dalam konteks sempit. Namun  dalam konteks yang luas. Bisa kasih sayang berkaitan dengan lingkungan hidup, alam, tumbuhan, binatang dan lainya,” kata Nur Cahyo kepada BBS TV.

Perayaan Valentine tak sekadar bentuk kasih sayang kepada pacar atau kekasih yang cenderung mengarah ke perzinaan. Melainkan dapat diwujudkan dalam bentuk berbagi dengan sesama atau makhluk Tuhan lainnya.

Dengan demikian, seseorang bisa menjadi insan madani dan tahu akan sejarah peninggalan masa lampau. “Dengan adanya hari Valentine, dikembalikan ke pribadi masing-masing agar  dapat memaknai semua sejarah dan artinya,” tukas Nur Cahyo.

Berdasarkan sejarah yang pernah dipelajarinya, hari Valentine lahir dari seorang pendeta era Kerajaan Romawi kuno di Eropa pada abad  ke-3 Masehi.  Saat itu, kaisar  bernama Claudius  2 mengetahui pendeta bernama Valentine akan menikahkan seorang remaja berusia belia.

Sang kaisar lantas menghukum pancung Pendeta Valentine. Eksekusi dilakukan pada 14 Februari 273 Masehi. Peristiwa itulah titik awal lahirnya hari Valentine. Hingga kini berkembang luas dan dikenal di berbagai negara. Khususnya di kalangan remaja.(Joko Prayitno)

SHARE